Obyek wisata di Bali

Pura Tanah Lot

Jika kita lihat dari namanya Tanah Lot berasal dari kata Tanah dan Lot (laut), disini akan dapat kita artikan bahwa Tanah Lot adalah Tanah yg di laut dengan kata lain ada pualu kecil ditengah laut. Dan memang demikian adanya, jika kita berkunjung kesana, kita akan menjumpai pura kecil ditengah laut yg dikelilingi oleh pemandangan laut yg sangat indah. Akan lebih indah lagi jika kita berkunjung pada saat matahari terbenam, apabila cuaca lagi cerah kita akan dapat menyaksikan sunset yg sanagat romantic. Menurut sejarah Pura ini dibangun kira2 abad 11SM. Yg didirikan oleh pendeta suci dari jawa timur yg bernama DANGHYANG NIRARTA. Pura ini akan terlihat lebih indah pada saat air lagi pasang, dimana pura ini akan tampak betul2 ditengah laut. Dan jika airnya surut kita akan sangat mudah menjangkau sekitar pura. Namun pura kita tidak boleh masuk keareal pura karena hanya diperuntukan bagi yg mau melakukan persembahyangan.

Advertisements

Tradisi Kasta dan nama orang Bali

Seperti yg kita ketahui, sebagian besar masyarakat Bali memeluk agama Hindu. Atas dasar itulah sampai sekarang system kasta masih dapat dijumpai di Bali. Kasta merupakan peninggalan nenek moyang orang hindu diBali yg diwariskan dari generasi ke generasi. Pada zaman dahulu, kasta itu dibuat berdasarkan profesi masyarakat. Sampai saat ini diBali ada 4 kasta yaitu:

Brahmana, Ksatrya, Wesya dan Sudra

 

-Kasta Brahmana merupakan kasta dari masyarakat yg mempunyai profesi yg bergerak dibidang religi/agama seperti Pendeta. Dimana sampai sekarang mereka diberi gelar/title Ida Bagus (laki-laki) dan Ida Ayu (perempuan).

-Ksatrya; kasta dari masyarakat yg berprofesi sebagai abdi Negara/kerajaan (zaman dulu), yg diberi gelar Anak Agung.

Wesya; kasta dari masyarakat yg berprofesi sebagai prajurit. Mereka diberi gelar Gusti Bagus (laki-laki) dan Gusti Ayu (perempuan).

-Sudra; ini adalah kasta yg terakhir diBali, dimana kasta Sudra tidak mempunyai gelar, mereka hanya dberi nama menurut urutan kelahiran seperti; Wayan (anak pertama), Made (kedua), Nyoman (ketiga) dan Ketut (keempat). Jika ada yg mempunyai lebih dari 4 orang anak namanya akan kembali lagi keurutan pertama (wayan), begitupun seterusnya.

 

Pada zaman dahulu masyarakat di Bali tidak boleh menikah dengan kasta yg berbeda. Seiring perkembangan zaman, aturan itu tidak berlaku lagi untuk saat ini. Mereka boleh menikah dengan kasta yg berbeda dengan syarat kasta yg perempuan harus mengikuti yg laki-laki. Jika kasta perempuan dari kasta yg tinggi, menikah dng kasta yg lebih rendah, maka kasta si perempuan akan turun mengikuti suaminya. Begitu juga sebaliknya, Karena di Bali laki-lakilah yg menjadi ahli waris dari generasi sebelumnya.


Advertisements